Mitos dan fakta seputar rabun mata selalu menjadi topik yang menarik untuk dibahas. Banyak orang sering kali bingung antara informasi yang benar dan yang salah mengenai kondisi kesehatan mata yang satu ini. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami perbedaan antara mitos dan fakta seputar rabun mata yang harus diketahui.
Salah satu mitos yang sering kita dengar adalah bahwa membaca buku dengan cahaya yang redup dapat menyebabkan rabun mata. Namun, menurut dr. Fadli Rizki, seorang dokter spesialis mata, hal ini tidak sepenuhnya benar. Menurutnya, membaca dengan cahaya yang kurang memadai hanya akan membuat mata lelah dan tidak nyaman, namun tidak menyebabkan rabun mata.
Sementara itu, fakta seputar rabun mata yang harus kita ketahui adalah bahwa kondisi ini sebenarnya disebabkan oleh berbagai faktor, seperti genetika, usia, dan gaya hidup. “Rabun mata dapat disebabkan oleh faktor genetika, jadi jika Anda memiliki riwayat keluarga dengan masalah penglihatan, Anda lebih rentan terhadap rabun mata,” kata dr. Fadli.
Selain itu, mitos lain yang perlu kita klarifikasi adalah bahwa mengenakan kacamata secara terus-menerus dapat memperburuk rabun mata. Namun, menurut American Academy of Ophthalmology, mengenakan kacamata atau lensa kontak sesuai dengan resep dokter mata justru dapat membantu memperbaiki penglihatan dan mencegah penurunan lebih lanjut.
Namun, ada juga fakta seputar rabun mata yang harus diwaspadai, seperti gejala rabun jauh yang bisa menjadi tanda awal penyakit mata serius, seperti katarak atau degenerasi makula. “Jika Anda mengalami kesulitan melihat jarak jauh, segera periksakan mata Anda ke dokter untuk mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat,” tambah dr. Fadli.
Dengan memahami perbedaan antara mitos dan fakta seputar rabun mata, kita dapat lebih bijak dalam menjaga kesehatan mata kita. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter mata jika Anda mengalami gangguan penglihatan atau gejala rabun mata. Kesehatan mata adalah aset berharga yang harus kita jaga dengan baik.